Dalam rangka memperingati World Mental Health Day pada tanggal 10 Oktober, artikel ini akan mengulas tanda-tanda tendensi bunuh diri dalam tulisan tangan.
Bunuh diri adalah salah satu penyebab kematian yang tinggi diseluruh dunia. Menurut data dari WHO, ada sekitar 700.000 / tahun kasus bunuh diri. Sementara di kisaran usia 15-19 th, kasus bunuh diri menempati ranking ke 4. Secara sosio ekonomi, 77% kasus kematian bunuh diri berada pada kelas menengah ke bawah.
Menurut WHO, 1 orang meninggal akibat bunuh diri setiap 40 detik. Disinyalir, angka yang sebenarnya lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan karena pendataan mengenai kematian karena bunuh diri dan juga percobaan bunuh diri belum terdata dengan benar diseluruh dunia.
Dari Graphology, banyak sekali tanda-tanda tulisan tangan yang akan digunakan, Dr. Erika Karohs, dalam artikel Suicidal Tendencies in Handwriting Analysis, menyarankan kita harus memahami dinamika bunuh diri terlebih dahulu. Riset menemukan bahwa bunuh diri seringkali dipicu oleh faktor kehilangan orang yang dicintai, sakit fisik atau cacat, kegagalan dalam bersosialisasi dan pekerjaan, problem keuangan, kesepian dan rasa bosan. Terkadang rasa ingin membalas dendam, kebencian dan keinginan untuk membuat orang lain bersalah menjadi faktor yang memotivasi untuk bunuh diri. Dalam penyakit mental, keinginan untuk bunuh diri diyakini berasal dari subconscious mind (pikiran bawah sadar seseorang).
Ada 2 faktor yang seringkali muncul bersamaan yaitu rasa bersalah yang kuat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan realita dan rasa benci yang sangat tinggi sehingga “berbalik kedalam†dan mengarah pada penghancuran diri.
Terlepas dari percobaan bunuh diri atau tindakan bunuh diri, seringkali orang disekitar mengabaikan tanda yang dikeluarkan seperti ucapan atau tulisan. Kerap petunjuk bahwa seseorang ingin melakukan bunuh diri terlihat dalam sebuah tindakan yang terlihat jelas seperti menyimpan rahasia atau menutup diri, tiba-tiba membuat surat wasiat atau berupa pernyataan verbal seperti
"Saya ingin mengakhiri semuanya."
"Saya tidak akan tahan lagi," atau
"Saya tidak berharga†atau
Kadang ekspresi niat bunuh diri dapat juga disampaikan secara tidak langsung, misalnya, orang yang mengalami depresi ketika pergi mungkin mengatakan:
"Saya kira saya tidak akan melihat Anda lagi" atau
"Saya ingin berterima kasih kepada Anda karena telah berusaha untuk membantu saya."
Peringatan ini mungkin dikeluarkan karena keinginan mereka untuk minta yang lain membantu mereka untuk hidup dan tidak mati.
Studi retrospektif oleh Barraclough dan rekannya menunjukkan bahwa sekitar 80 persen pasien yang telah melakukan bunuh diri sudah mengalami tingkat depresi berat sebelum upaya bunuh diri yang fatal (mematikan).
Gejala-gejala depresi akut seperti putus asa, kehilangan minat, menyalahkan diri sendiri dan sulit tidur. Orang tersebut merasa bahwa tidak memiliki harapan dan dirinya tidak layak, bahkan merasa bertanggung jawab atas masalah tersebut disamping tidak melihat jalan keluar dalam mengalami kesulitan. Pelaku bunuh diri juga tidak lagi merasa semangat dan antusias dalam kesehariannya sehingga cenderung tidak berupaya dan bahkan menarik diri dari semua keterlibatan. Mereka cenderung memandang dunia luar dan masa depan secara negative dan tidak dapat diperbaiki atau dirubah lagi. (B. M. Barraclough, “The Diagnostic Classification and Psychiatric Treatment of 100 Suicides,†Proceedings of the Fifth International Conference for Suicide Prevention, London, 1969)
Menurut G. Engel, 75% individu yang mengalami depresi percaya bahwa mereka tidak akan pernah sembuh. Pola khas ini telah dicirikan sebagai sindrom "helplessness-hopelessness". Orang yang depresi percaya bahwa baik dirinya atau faktor eksternal tidak ada yang dapat membantu dirinya. Sehingga bunuh diri, dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi sebuah situasi tanpa harapan.
Bjerg melaporkan bahwa dalam 81 persen catatan bunuh diri dianalisis, penulis melihat dirinya sebagai memiliki keinginan (selain bunuh diri) yang tidak akan pernah terpenuhi. (K. Bjerg, The Suicidal Life Span, New York: Science House, 1967.)
Namun demikian, depresi dapat disembuhkan dengan efektif dibandingkan penyakit mental lainnya.
IMPLIKASI GRAFOLOGI
Data dan fakta yang telah dibahas diatas menjadi acuan yang sangat berharga bagi Ilmu Graphology. Disini setidaknya peran Graphologist dapat berpartisipasi dalam mengantisipasi bunuh diri.
Menurut Dr. Erika Karohs, kebanyakan tanda-tanda tulisan tangan orang yang mengalami depresi dan suicidal tendencies muncul bersamaan sebelum orang tersebut bertindak melakukan percobaan bunuh diri.
Ketika melihat apakah seseorang memiliki depresi dan suicidal tendencies, Erika Karohs mengajarkan menganalisa sebuah tulisan tangan secara menyeluruh, holistik dan juga memperhatikan setiap detail yang muncul. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan antara lain adalah ketika seseorang kurang mampu dalam mengelola waktu, energy dan sumber daya yang dimiliki, tidak memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik, seringkali merasa tidak memadai dan kurangnya dalam kontrol diri. Disisi lain, faktor yang akan mempengaruhi adalah menarik diri dari lingkungan, memiliki outlook kehidupan yang negative, hysterical dan juga anxiety yang tinggi. Delapan faktor tersebut dicek melalui 10 macam tanda dalam tulisan tangan. Selain itu frekwensi muncul juga harus dipertimbangkan. Jadi tidak hanya dari 1 tanda saja atau 1 kali muncul kemudian seseorang dijustifikasi menderita depresi akut atau suicidal tendencies.
Sementara untuk Depresi, tanda-tanda yang mencerminkan tingkat kepercayaan diri dan harga diri yang rendah, tidak memiliki kebulatan tekad untuk meraih sesuatu, memiliki cadangan energy dalam tubuh yang sedikit selain itu memiliki tanda-tanda keinginan untuk diterima, menarik diri dan juga pesimis.
Berikut ini adalah beberapa contoh tulisan tangan orang yang mengalami depresi :
1. Hysterical
Salah satu tanda penulis memiliki tanda-tanda histeris adalah penggunaan tanda seru yang tidak pada tempatnya dan berlebihan.
2. Garis dasar yang bergelombang
Garis dasar tulisan yang bergelombang dan tidak stabil membentuk garis lurus.
3. Elaboration in Signature
Penambahan bentuk pada tanda tangan yang tidak memiliki arti.
4. Anxiety
Cover Stroke in Upper Zone
Zona atas tulisan atau loop pada huruf l, k, b dan h tertutup padahal seharusnya terbuka dan ada lubangnya.
So, G-Foks, jika Anda mendengar orang disekeliling ada yang berkata seperti ungkapan diatas atau melihat tanda-tanda pada tulisan tangan seperti contoh2 diatas maka sebaiknya Anda segera mencari informasi untuk membantu orang tersebut agar dapat melakukan pencegahan sedini mungkin.
Keep healthy inside out, G-Folks.
Disclaimer:
Analisa kepribadian dari tulisan tangan dilakukan menggunakan sistem yang comprehensive dengan menggunakan berbagai macam tanda baik secara makro maupun mikro dalam tulisan tangan. Contoh diatas hanyalah sebagian dari tanda-tanda yang digunakan dalam menginterpretasikan karakter seseorang.
Tulisan tangan adalah tulisan otak yang selalu dapat berubah mengikuti perubahan mindset di otak. Seiring dengan sifat otak manusia yang memiliki sifat neuroplastisitas yaitu kemampuan otak untuk merubah sesuai dengan mindset dan skill yang kita asah maka perubahan mindset akan tercermin pada tulisan tangan.