Articles

2021-06-07
Journal Writing: A Lifetime Project | Articles

Menulis dengan tangan memiliki banyak manfaat.  Selain dari sisi Graphology yang dapat melihat kepribadian seseorang dari tulisan tangan, salah satu manfaat menulis dapat menjadi sebuah terapi diri.
Bentuk terapi diri ini disebut dengan journaling.  Melalui Journaling kita dapat mengekspresikan diri dari semua perasaan, emosi, masalah, beban, harapan, impian kita.  Proses mengeluarkan uneg-uneg atau releasing yang memenuhi otak merupakan bentuk catharsis (pembersihan).  Namun sebenarnya, proses Journaling lebih dari itu. Ada proses Emotional Confrontation (membongkar emosi yang dipendam dapat mengurangi stress dan tekanan); Cognitive Processing (mencatat kejadian sehari-hari, peristiwa penting dan emosi yang timbul dapat membantu kita untuk merangkai seluruh kejadian secara logis sehingga kita memiliki perspektif yang beragam dan mudah beradaptasi; Repeated Session (mencatat journal emosi secara rutin dapat membantu kita mengatasi response emosi negative karena kita mendapatkan gambaran mengenai kehidupan dari perspektif yang beragam).  Pada dasarnya, kemampuan Emotional IntelligentAnda meningkat.  Anda dapat melabel, memanage dan mengontrol emosi secara jelas.  Oleh karena itu, kemampuan berfikir meningkat dan konstruktif.  Inilah yang membuat Anda menjadi manusia yang lebih sehat dan seimbang.

Penelitian manfaat journaling terhadap kesehatan mental dilakukan oleh Dr. James Pennebaker pada tahun 1980.  Menurut Dr. Pennebaker, manfaat yang dapat diperoleh dari Journaling antara lain kwalitas tidur meningkat, meningkatkan sistem immune tubuh, daya ingat bertambah tajam serta dapat memperbaiki suasana hati.  Penelitian yang dilakukan oleh Psychologist UCLA menemukan bahwa emosi seseorang akan menurun ketika melakukan journaling.  
Dalam neuroscience, fungsi regulasi emosi dilakukan oleh bagian otak yang disebut Amygdala.  Rasa takut, gusar dan tertekan yang ada dalam Amygdala akan menurun karena pada saat menulis (journaling) bagian otak lainnya yaitu Pre Frontal Cortex mengambil alih peran amygdala dengan cara memproses rasa takut tersebut kedalam bentuk kalimat yang berstruktur, menyambungkan inti permasalahan, membuat perspektif dan pemaknaan baru dari emosi yang muncul tersebut.  Jika dianalogikan journaling berfungsi seperti rem pada sebuah mobil sehingga kita tidak ke bablasan dengan emosi yang timbul tersebut.

Ada banyak tipe Journal antara lain productivity journal, relationship journal, The Bullets Method Journal, The Plus/Negative & Action Journal, 5 Minutes Journal, One Line A Day Journal, Art Journal, Unsent Letters, Dream Journal, Reflection Journal, Gratitude Journal and many more.  Sementara Expressive Writing adalah dimana suatu bentuk journaling yang lebih memfokuskan pada emosi dan perasaan yang timbul dibandingkan menceritakan sebuah peristiwa, memori, object atau orang lain. 

Secara tidak sengaja saya berkenalan dengan @tsamarafahrana yang mengeluarkan 3 buah journal Purposeful, Be Honest dan Be Grateful.Be Purposeful menjadi pilihan saya, melengkapi 2 journal lain yang isinya campuran expressive writing, pemikiran, harapan serta trial & error ilmu yang baru dipelajari.
Melihat kerangka didalam journal Be Purposeful menimbulkan semangat karena seperti ada coach yang berbicara kepada saya.  Jika beberapa tujuan jangka panjang yang pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu sudah berhasil direalisasikan tanpa ada kerangka yang jelas dan konsistensi dalam menulis jurnal maka aya bertanya-tanya apakah dengan kerangka dalam Journal Be Purposeful ini dapat mendorong saya ber-progress lebih baik lagi ? Dan apakah dengan melakukan aktifitas journaling selama 30 hari berturut-turut dapat merubah mindset sehingga berujung adanya perubahan pada tulisan tangan saya seperti munculnya tanda-tanda persistensi dan konsistensi? hmmm let's find out, G-Folks!

So excited to embark!