Articles

2017-07-03
Self Confidence, Fear and Being A Hero | Articles

Rin memekik girang. Dia baru saja menerima kabar yang sangat menggembirakan hatinya. “Aku dapet tawaran bagus nih, guys! Barusan Mbak Dinda tanya, apa aku mau gabung sama managementnya.” “Maksudnya?” “Iya, aku ditawarin jadi MC! Bayangin, aku jadi MC. Ampun dehhh… Kebayang nggak sih?!” Rin terbahak, masih setengah tak percaya. “Wuih, asyik banget! Selamat ya, Rin. Terus gimana? Kapan mulai?” “Hah, mulai?! Enggak lah.. Wong barusan udah aku tolak kok… Hehhee…” Rin terkekeh ringan dan kami yang mendengar ceritanya hanya melongo, tak habis pikir bagaimana dia bisa menolak tawaran dari seorang pemilik Event Organizer kondang nan terkenal itu. “Kamu sakit ya?!” “Gila yak! Kita pada ngantri buat dikontak, eh dia yang dikontak malah nolak… Teope begete banget dag!” Kami pun menepuk jidat berjamaah. 


“Aduh, plz deh.. Jadi manusia itu kudu tahu diri. Jelas-jelas belum mastering ngemsi masak mau ambil job-nya. Jangan mentang-mentang ditawarin ya. Malu, diketawain sama kucing ntar…” Rin menangkis tatapan sebal teman-temannya dengan jurus seribu mulut. “Iya, tapi itu menurut elu kan?! Dan lu bukan Mbak Dinda!” “Ya, iyalah... Secara… Bla bla bla…” Dan perdebatan panjang pun tak terhindarkan.


*


Pernah mengalami kasus serupa? Mendapat tawaran yang super dahsyat dan menolaknya dengan tegas meski hati berbunga-bunga? Terasa absurd memang, tapi Saya yakin banyak teman-teman pernah mengalami hal serupa.


Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa hal tersebut bisa menghinggapi diri kita? Salah satu problemnya bukan tak mungkin adalah masalah kepercayaan diri 


Self Confidence atau kepercayaan diri adalah sesuatu yang sangat krusial bagi setiap orang. Kepercayaan diri melibatkan banyak hal dan akan berdampak pada banyak hal juga. Secara sederhana kepercayaan diri dapat diartikan sebagai sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Kepercayaan diri adalah sebuah kondisi dimana individu merasa optimis dalam memandang dan menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya.


Orang yang percaya diri lebih mampu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, orang yang percaya diri biasanya akan lebih mudah berbaur dan beradaptasi dibanding dengan yang tidak percaya diri. Karena orang yang percaya diri memiliki pegangan yang kuat, mampu mengembangkan motivasi, ia juga sanggup belajar dan bekerja keras untuk kemajuan, serta penuh keyakinan terhadap peran yang dijalaninya (Iswidharmanjaya & Enterprise, 2014:40-41).


Kepercayaan diri berkait erat dengan self-efficacy dan self-esteem. Self-efficacy adalah titik dimana kita ataupun orang lain menilai diri kita dari nilai yang sama, bahwa kita mampu mengelola bidang yang kita kuasai dan dapat mencapai target yang signifikan di area tersebut.


Adapun self-esteem berkait dengan cara pandang kita dalam menilai atau menghargai diri kita sendiri. Termasuk di dalamnya, sejauh apa kita berperasaan positif terhadap diri kita, sejauh mana kita meyakini adanya hal yang bermartabat di dalam diri.


Baik self-confidence, self-efficacy maupun self-esteem seseorang akan berkembang dengan baik apabila beberapa prasyarat dalam memandang diri berhasil diterapkan. Hal tersebut dapat terlihat lewat kemampuan seseorang dalam menjawab pertanyaan sederhana di bawah ini. Misalkan saja, 


apakah seseorang benar-benar memahami dirinya sendiri? 


apakah seseorang berani menerima dirinya, yang unik dengan segala kelebihan maupun kekurangannya?


apakah seseorang mampu melampaui ketakutan yang ada di dalam dirinya.


Jawaban dari tiga pertanyaan ini setidaknya dapat memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana kita memahami, mengerti dan mampu mengelola diri kita sebelum akhirnya terjun menghadapi tantangan dunia.


Seseorang dengan talenta besar tidak akan berhasil mendayagunakan dirinya sehingga kesempatan yang ada terbuang percuma dan prestasi pun menjadi sulit diraih. Ketidakmampuan ini akan membuat penetapan target hidup, keberanian untuk tampil dan bersikap apa adanya menjadi terhambat. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kepercayaan diri terlalu tinggi pun akan berakibat fatal karena yang bersangkutan gagal dalam menilai dirinya secara objektif. Berjaraknya pandangan akan diri dengan realitas yang ada dapat membuat relasi sosial maupun hubungan komunikasi terganggu. Alih-alih mendapat respon positif, justeru sebaliknya yang akan kita terima.


*


Saya percaya, pada prinsipnya keberanian adalah kekuatan untuk melampaui ketakutan. Dan hal yang sama dilakukan oleh para hero dalam kehidupan fiksi maupun non fiksi kita. Mereka berani mengambil tongkat tanggungjawab untuk terus melangsungkan hidup dan menjawab berbagai tantangan yang ada. Dan semua hal itu dapat terjadi karena mereka sangat mengetahui kemampuan mereka dan di sisi lain, sanggup melampaui batasan yang ada.


Jadi, mengapa tidak menyelesaikan perkara ini? Pupuklah rasa percaya diri dan harga dirimu. Kenali hambatan yang ada agar kamu dapat mengetahui hal-hal apa sajakah yang menyebabkan ketidakpercayaan dirimu. Jika kamu dapat mengidentifikasi hambatan yang ada di dalam diri, maka kamu berkesempatan untuk memberdayakan diri. Kamu dapat menjadi lebih produktif, kamu dapat membina relasi dan berkomunikasi dengan lebih baik dan kamu pun dapat menjadi hero bagi dirimu sendiri maupun lingkungan sekitarmu.


Apakah kamu masih tidak yakin dengan dirimu sendiri? Ceritakan apa kendala-kendala yang kamu hadapi dan saya akan membantu kamu melalui analisa tulisan tanganmu. Dengan graphology kamu akan menjadi dirimu sendiri dan tampil bersinar dengan penuh percaya diri bak bintang di kegelapan malam.