Articles

2022-06-21
Re-adjustment Yourself through Graphotherapy | Articles

False believe about ourselves many times happen to us.  Peristiwa yang membekas dalam memori, tertimpa dengan layer-layer kejadian lain, kesalahan dalam memaknai akibat tumpukan emosi yang tidak sempat dicerna dengan tepat menjadi pemicu kita memiliki false believe terhadap diri kita.   False believe ini bisa menyebabkan konflik dalam diri seseorang sehingga orang tersebut tidak dapat berfungsi secara maksimal. 


“Rasanya itu bukan hal yang sulit dilakukan, tapi mengapa saya tidak bisa meraih hal itu” atau “saya nggak mungkin bisa…(negative self talk)” dll adalah beberapa contoh konflik yang dialami seseorang.  Masalah ini bisa diatasi dengan cara berbagai macam seperti mengunjungi konselor atau psikolog atau mengikuti workshop, journaling atau mengikuti tips2 dari pakar Kesehatan mental melalui social media sebagai bagian proses penyembuhan yang holistic.


Menurut Dr. Erika Karohs, konflik dalam diri seseorang dapat berbentuk rendahnya kepercayaan diri, Tension, Nervous, sulit konsentrasi, kurang kemampuan dalam menangani tekanan, dll.  Yang merupakan signal bahwa ada ketidakharmonisan dalam diri seseorang. 


Salah satu cara yang diperkenalkan oleh Dr. Erika Karohs untuk mengatasi konflik adalah dengan menggunakan Graphotherapy.  Graphotherapy bagian dari ilmu Graphology yang merupakan Teknik untuk merubah kebiasaan merusak diri tanpa sadar menjadi kebiasan baru yang self-supportive.  Menurut Dr. Erika Karohs, dalam buku Grapho-Cybernetics, teknik ini dapat merubah atau menghentikan aktifitas sabotase diri yang menghalangi diri untuk maju – yang terkadang kita sendiri tidak menyadari bahwa kita mensabotase diri sendiri.


Penelitian Klinis mengenai Grapho Cybernetics dilakukan oleh Dr. Pierre Janet and Charles Henry di Sorbonne Paris, pada tahun 1929.  Grapho Cybernetics ini diciptakan berdasarkan pengetahuan dari brain plasticity concept.  Dr. Rudolf Pophal, seorang Neurologist Jerman melalukan riset mendalam mengenai terapi Grapho Cybernetics ini yang menurut dirinya, memiliki efek pada otak pada tingkatan physiological dan psychological.  Gerakan repetitive pada tangan dengan pola tertentu memberikan efek positif pada otak seseroang.  Dan karena otak bersifat plastis, maka otak dapat berubah dan dibentuk, maka mindset dan perilaku seseorang juga dapat dirubah.  Grapho Cybernetics bukan terapi merubah tulisan tangan untuk mencapai perilaku atau mindset tertentu namun Grapho Cybernetics adalah Teknik dimana seseorang dapat merubah pola pandang terhadap dirinya yang kemudian akan diikuti oleh perubahan pada bentuk tulisan tangannya.  


Grapho Cybernetics terdiri dari 32 modul dan setiap modulnya harus dikerjakan selama 21 hari berturut-turut tanpa putus agar jaringan baru yang dibentuk oleh neuron-neuron diotak stabil.  Setiap latihan Grapho Cybernetics memiliki tujuan yang spesifik untuk menyelesaikan masalah atau konflik dalam diri seseorang. Analisa Tulisan tangan harus dilakukan terlebih dahulu sehingga seorang Grapholog atau Graphotherapist dapat menentukan mindset atau behaviour apa yang akan diubah sesuai dengan skala prioritas.


Dr. Erika Karohs mengatakan bahwa Grapho Cybernetics membutuhkan self discipline dan konsisten agar berhasil dan exercise ini bukanlah hit & run atau berharap ada perubahan dalam waktu instant.


Menurut pengalaman saya sendiri ketika menjalani terapi Grapho Cybernetics, efek perubahan yang dirasakan cukup mengejutkan.  Perubahan yang dialami adalah kreatifitas dalam photography meningkat dan tidak pernah kehabisan ide selain itu, tangan kiri menjadi aktif sehingga aktifitas menyapu ruangan, cuci piring dan membersihkan sofa bisa dilakukan dengan tangan kiri dengan nyaman.  


Memang syarat nya adalah komitmen untuk rutin dan persistensi selama latihan harus dijaga dengan stabil.  Dimanapun dan kapanpun kita berada, harus mengalokasikan waktu untuk +-30-40 menit untuk mengerjakan terapi ini.  

Berikut ini adalah bentuk-bentuk terapi Grapho Cybernetics mulai dari bentuk yang paling mudah sampai ke bentuk yang paling sulit:


  

  


Mari berdisiplin diri untuk bertransformasi kearah yang lebih baik, G-Folks.


"Let's Bring Out Your Positivity Through Your Handwriting"