Articles

2017-08-12
Mengintip Fungsi Otak yang Bekerja ketika Kita Menulis | Articles

Sudah menjadi pandangan yang jamak, apabila dalam sebuah ruang diskusi, para peserta sibuk mencatat materi dengan laptop, tab ataupun menggunakan alat perekam suara. Kalian mungkin melakukan hal yang sama, demikianpun saya. Dan kita terbiasa memicingkan mata ketika menyaksikan seseorang mengeluarkan notes dan sibuk mencatat dengan bolpoin. Beberapa dari kita mungkin tak akan tahan menahan tawa kikik; membayangkan betapa ‘jadul’nya mahluk tersebut. Dan beberapa orang lainnya akan setengah mengangkat bahu, abai, kembali sibuk memperhatikan materi sambil berdoa agar tidak menjadi segolongan kaum bernotes dan berbolpoin itu.


Ya, menulis dengan tangan menjadi semakin tidak popular. Andai kata setiap orang diberi kemudahan yang sama untuk mengakses teknologi, saya yakin semua orang akan beralih pada digital writing dengan stylus pen ataupun keyboard. Sedikit orang yang tertarik untuk menulis dengan tangan, untuk menyebutnya tidak ada. Tapi, apa ruginya menulis dengan bantuan teknologi? Bukankah tulisan kita akan tersimpan langsung di dalam file dan terintegrasi dengan cloud storage?! Jadi, kurang apa lagi?! Sebagaimana kita ketahui, modernitas menggarisbawahi efisiensi dan efektifitas, dan menulis dengan bantuan teknologi benar-benar membuat kita menjadi manusia modern. Sempurna.


Sayangnya, tiada kesempurnaan yang bersifat mutlak. Demikian halnya dengan perkara digital writing ini. Menurut penelitian, menulis memperkuat kemampuan otak. Dalam hal ini tentu saja yang dimaksud adalah aktivitas menulis yang dilakukan dengan tangan atau dikenal dengan istilah hand writing. Dari penelitian Neuroscience sebanyak 80% otak bekerja pada saat kita menulis dan hal tersebut jauh berbanding terbalik dengan aktivitas berbicara. Pada saat kita menulis, ada banyak bagian otak yang bekerja secara simultan. 


Secara sederhana, proses di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada prinsipnya, fenomena dalam keseharian kita akan ditangkap sebagai sebuah stimulan. Nah, stimulan tersebut kemudian akan diproses dibagian otak sesuai dengan jalur masing-masing. Misalkan saja, untuk stimulan visual akan diproses melalui Lobus Oksipetal sementara untuk stimulan peraba dan penciuman akan diproses melalui Lobus Frontal. Terdapat empat jalur lobus yang bekerja mewakili kedudukan panca indera. Setelah masing-masing simulan ini diterima, selanjutnya bagian otak yang disebut PFC (Pre Frontal Cortex) akan bekerja untuk menganalisa, membuat justifikasi, membuat pemaknaan serta membuat keputusan dari stimulan yang masuk tersebut.  


Setelah proses pengolahan data selesai, maka otak bagian bahasa yaitu Wernicke yang bertugas untuk membangun pemahaman akan makna kata segera bekerja. Tugas Wernicke kemudian akan diambil alih oleh Brocca. Broca berperan dalam proses pembentukan kata dan pembentukan makna kata. Proses selanjutnya adalah otak akan memerintahkan bagian otak Motor Cortex untuk menggerakan tangan melakukan gerakan menulis. Pada saat yang bersamaan, bagian otak lainnya yang menyimpan memori masa lalu dan disimpan sebagai subconscious memory juga mulai bekerja dan pada akhirnya keluar melalui tanda-tanda pada tulisan tangan.


See… Betapa banyaknya organ di dalam otak yang bekerja dengan giat hanya lantaran kita menulis. Jadi, teman-teman pasti paham kalau kita menghentikan kegiatan tulis menulis dengan tangan itu sama artinya dengan memberhentikan otak kita. Kinerja otak akan menjadi minim dan tak heran kalau kita sering mendengar istilah lola alias loading lambat atau bahkan celetukan ringan semacam ‘masih muda kok pikun’. Ya, bukan tak mungkin keadaan yang lebih buruk terjadi pada otak hanya lantaran kita kurang memberi asupan gizi tepat bagi otak. Dan salah satu cara untuk membangun anti aging bagi otak adalah dengan hand writing.


Oke, untuk melengkapi penjelasan di atas, silakan teman-teman cermati gambar dan keterangan di bawah ini. Semoga sedikit penjelasan ini mencerahkan jiwa kita. Dan jangan lupa, teman-teman bisa sharing soal writing therapy dengan saya. Saya akan dengan senang hati membantu teman-teman sekalian.



 


Bagian Otak Yang Bekerja Pada Saat Kita Menulis



PRE-FRONTAL CORTEX

Memiliki fungsi eksekutif, pemaknaan, merencanakan, pengambilan keputusan, justifikasi.

Lobus frontal, berfungsi sebagai pusat penciuman dan indra peraba. Lobus temporal, berfungsi sebagai pusat pendengaran. Lobus oksipetal berfungsi sebagai pusat penglihatan. Lobus parietal berfungsi sebagai ingatan, kecerdasan, memori, kemauan, nalar dan sikap. Berfungsi mengatur kegiatan yang berkaitan dengan pemetaan ruang, tempat dan mental imaging.


WERNICKE 

berfungsi untuk pemahaman kata yang didengar dan objek yang dilihat. Merupakan area otak yang menjadi pintu gerbang untuk memahami rangsangan verbal.


BROCA

berperan dalam proses pembentukan kata-kata dan pembentukan makna kata.


ANTERIOR CINGULAT CORTEX

Memiliki fungsi sebagai fleksibilitas dalam berpikir dan kemampuan penyesuaian atas stimulan datang dari luar ke dalam diri.


BASAL GANGLIA

Bagian otak yang berperan dalam membuat peta kebiasaan dan pekerjaan (respon) yang bersifat otomatis, aktif dengan “jika-maka”, menyimpan memori subconscious. Berperan untuk menyelaraskan pemikiran, perasaan dan gerakan tubuh, merekam peta kebiasaan dan pekerjaan otomatis umum.


OTAK KECIL

Otak kecil terletak dibagian belakang otak besar. Otak kecil berfungsi sebagai pusat pengaturan koordinasi gerakan yang disadari dan keseimbangan tubuh serta posisi tubuh.


HIPPOCAMPUS

Berperan dalam konsolidasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.


AMYGDALA

Berfungsi mengatur kehidupan emosi, membantu mengelola respons fight or flight dan berperan penting untuk interaksi sosial. Dalam system limbic dalam Amygdala, terdapat pula Thalamus dan Hypotalamus. Thalamus adalah penerima informasi sensorik dari panca indera yang kemudian diteruskan ke korteks serebri. Sementara Hypotalamus berfungsi untuk mengatur proses metabolisme tubuh yang vital, yang mempengaruhi suhu, tekanan darah, lapar, haus dan tidur. Dia mengontrol sistem endokrin dengan mempengaruhi produksi kelenjar hipofisis terhadap hormon.


PRIMARY SOMATIC SENSORY CORTEX

Inisiasi dari gerakan sukarela.


MOTOR CORTEX

Proses informasi sentuhan (berkenaan dengan peraba) dari tubuh.